Jurus Zig-Zag The FED

Maret 26, 2008 at 12:48 am Tinggalkan komentar

Bekerjanya skenario terburuk (doomsday) di pekan lalu, ditandai penurunan indeks pasar finansial global, adalah sesuatu yang tidak terlalu mengagetkan. Fakta Di balik kecemasan adalah adanya pihak yang memperoleh keuntungan (spreading) dari selisih transaksi finansial itu sendiri (financial netting).

Kolom saya tanggal 28 Januari 2008 (judul: “Menari Di Atas Kecemasan”), telah menguraikan fakta dibalik kejatuhan bursa global di tanggal 22 Januari 2008. Dimana, devisa Amerika Serikat (AS) di rekening The Fed justru mengalami kenaikan (24 Januari 2008: +USD 166 Juta, year on year). Kenaiakan diperoleh dari financial netting, melalui instrumen (1) Cash treasury atas Securities Lent To Dealer (SLTD); (2) Reversal Re Purchase Order (REPO) atas kontrak REPO sebelumnya dengan underlying surat berharga di pasar internasional.

Dalam tulisan yang sama, saya mengutarakan pula instrumen Term Auction Facilities (TAF) seri pertama (jatuh tempo 31 Januari 2008) dan TAF seri kedua mengakhiri masa lelangnya. Dimana, tatkala lelang TAF seri pertama berakhir (18 Desember 2007), indeks BEI mengalami puncak penurunan sekaligus membalik naik di hari berikutnya. Pengulangan tersebut pernah terjadi di 23 Januari 2008, seiring menguatnya kembali indeks BEI.

Bagi anda pembaca pertama kolom saya ini, untuk dapat mengikuti arus berpikir dari jurus teknikal The Fed, sebaiknya dapat membaca kolom-kolom terdahulu. Karena saat ini terjadi pengulangan fakta yang sama. Yaitu, dibalik penurunan indeks pasar finansial, cadangan devisa AS di rekening The Fed (kembali) menunjukan arus positif.

Devisa AS di rekening The Fed 20 Maret 2008 menunjukan angka pertumbuhan +USD 10,4 miliar (year on year). Bahkan 81,8% dari arus masuk tersebut diperoleh dari netting selama seminggu terakhir (week on week: +USD 8,5 miliar).� Yang menarik, 41,4% (USD 3,5 Miliar) dari netting selama seminggu tersebut, diperoleh di hari Rabu 19 Maret 2008.

Menjadi menarik, indeks beberapa emerging market di tanggal 19 Maret 2008, khususnya BEI mengalami awan mendung penurunan indeks menjelang libur panjang (long week end: Maulid Nabi Muhamad SAW dan Paskah). Rayuan transaksi short tidak mampu memicu adrenalin para bandar lokal untuk mengangkat indeks. Karena biasanya momen pergeseran “time value of money”� T+3 dari masa penyelesaian transaksi tak pernah terlewatkan (saat ini bergeser dari Senin-25 Maret 2008 ke Rabu-27 Maret 2008).

Perlu dicatat bahwa pertumbuhan positif rekening The Fed di 20 Maret 2008, telah memperhitungkan “bantuan likuiditas” terhadap (1) Primary dealer (di luar TAF) untuk operasi pasar dimulai 17 Maret 2008 sebesar USD 13,4 miliar; dan (2) Special credit extension sebesar USD 5,5 miiar untuk JP Morgan Chase & Co serta Bear Stearns Companies.� Perolehannya luar biasa bukan?

Fakta tersebut memperkuat fenomena, bahwa saat ini kebijakan Moneter The Fed tidak murni berhaluan fundamentalis (ITF: Inflation Targeting Framework) dengan instrumen fine tuning suku bunga-nya (rate).� Padahal framework Logika “text book” untuk keluar dari krisis adalah menurunkan rate, agar biaya modal (lending rate)� dapat� atraktif menghidupkan kembali sektor riil.

Itulah yang dipatahkan realita globaisasi pasar finansial. Otoritas moneter, suka atau tidak, harus keluar dari zona kenyamanan “text book literate”. Menuju ke pemahaman komprehensif tentang “financial literate” beserta seluruh turunan kondisi psikologisnya (persepsi). Betapa tidak, The Fed sebagai “mainstream Bank Sentral”, semakin hari semakin menunjukan jurus-jurus baru diluar kotak kenikmatan politik rate itu sendiri.

Proyeksi
Cina memegang peran penting merubah kutub tunggal dari mainstream kebijakan moneter dunia, yang selama ini dimonopoli The Fed. Seperti juga telah saya tulis di kolom-kolom sebelumnya, Bank Sentral Cina (PBC) terus menyerang dengan menaikan rate-nya saat The Fed menurunkan rate-nya.

PBC terus memperkuat� disiplin pertahanannya. Dimana, 25 Maret 2008 PBC menaikan rasio cadangan minimum di sistem Perbankan Cina sebesar 0,5 persen. Kebijakan uang ketat Ini ditujukan untuk mempersulit� arus keluar setelah dana diserap masuk ke penambahan financial netting Cina (yang sampai bulan lalu masih menunjukan peningkatan). Kebijakan tersebut memperkuat pola pertahanan sebelumnya, yaitu “regional swap agreement” antara PBC dengan BOJ (Jepang) serta kontrol administrasi ketat� atas transaksi forward. �

Disiplin pertahanan Cina, juga didukung manajemen persediaan cadangan energi alternatif. Sehingga, Cina belum “merasa” terjebak off side harga minyak dunia. Sikap kuat inilah, yang tampaknya mendorong naiknya harga emas. Karena rezim fix rate Yuan di-peg ke cadangan emas dengan jumlah besar di rekening devisa PBC.

The Fed menyedot financial netting dari fluktuasi pasar finansial global dan digunakan untuk menyuntik dana ke sistem keuangan yang tengah mengalami cerukan negatif (paska gagal bayar sub prime mortage). Sementara, PBC menggunakan financial netting untuk memberi stimulus ke kredit sektor riil terfokus dan memperkuat dana jaminan cadangan sosial.

Naasnya, besar indikasi Indonesia adalah stadion yang dipakai pertandingan moneter tersebut. Faktanya, (1) Saat penurunan indeks BEI di dua pekan terakhir, kembali terulang, didorong transaksi jual asing atas saham “index mover” di awal sesi, sebagaimana terlihat dari naiknya volume jual-beli dari asing ke asing tanpa diikuti kenaikan berarti frekuensi-nya; dan (2) posisi akhir hari saat indeks menurun menunjukan asing net buying, namun posisi kurs Rp-USD justru melemah, terlebih saat ini tren kurs regional menguat terhadap USD (posisi perdagangan kurs 19 Maret 2008 sempat menaik ke Rp9250, yang lalu terindikasi di-intervensi dalam 2 jam sebelum penutupan ke posisi Rp9180).

Pelemahan Rp-USD kembali mengulang kejadiaan pasar finansial 18 Desember 2007 dan 22 Januari 2008, yaitu dipicu oleh pola reversal (balik arah) instrumen teknikal The Fed (Reversal REPO International Market) dan open position lelang TAF seri 24 Maret 2008. Kalau kita cermati pula titik penurunan indeks 19 Maret 2008 (2.323,56) mendekati angka penurunan indeks (sekaligus angka arus balik naik kembali) di tanggal 22 Januari 2008 (2.294,52).

Jika dilihat dari sisi pola perdagangan, maka kemungkinan indeks BEI akan memasuki babakan baru kembali membalik arah menaik kembali. Terlebih sinyal itu telah terlihat dari indeks bursa utama dunia di tanggal 20 Maret 2008, telah menaik kembali. Satu yang harus dicermati adalah instrumen The Fed terbaru, yaitu Term Securities Lending Facilities (TSLF) yang merupakan komplomenter instrumen REPO dan kantong berbeda dengan TAF.

TSLF merupakan instrumen pinjam meminjam efek. Dimana, mortage (bond) bermasalah dapat diserahkan ke The Fed dengan kolateral Obligasi Pemerintah AS (instrumen aset The Fed). Sehingga, The Fed tampaknya ingin menghidupkan pasar obligasi, paska rendahnya kepercayaan pasar terkait obligasi berisiko gagal bayar.

Jika dealer yang juga pengelola global hedge fund mengurangi alokasi portopolio saham untuk mencari selisih dari pasar obligasi, maka bursa saham akan melesu. Sehingga, jika anda pemain di bursa, maka harus berhati-hati terhadap arah angin baru ini. Karena teori badarnomics muaranya adalah mencari selisih yang memicu perselisihan itu sendiri (doomsday scenario).

Sinyalnya belum ada, karena (1) volume di pasar saham global masih menunjukan tren menaik dan; (2) masih terdapat selisih antara bunga TAF dengan Fed rate. Itu pula berarti fluktuasi masih akan terjadi. Fluktuasi adalah financial netting bagi sang master mind. Jika anda termasuk yang beruntung di arus tersebut, belanjakanlah selisihnya di pasar riil. Agar rakyat banyak di luar stadion sedikit tersenyum dari madu belanja solidaritas para penonton di dalam stadion finansial.

Dari perspektif kebangsaan yang lebih luas, semoga pemimpin negeri ini mampu memberi inspirasi bagi bangsanya untuk cermat, matang dan akurat dalam menyikapi kedaan. Baik AS (The Fed) dan Cina (PBC) mengajarkan “menyerap financial netting jauh lebih penting daripada meratapi krisis itu sendiri”. Itulah sejatinya tantangan Gubernur BI berikutnya.

Ben Bernanke (Gubernur The Fed) menurut Zhou Xiachuan (Gubernur PBC) adalah seorang yang lebih “mainstream” dibandingkan pendahulumya (Alan Grenspan). Faktanya, Bernanke lebih “out of the box” dibandingkan Grenspan. Itulah nilai seorang Gubernur Bank Sentral “matang dan terukur”. Sehingga, kocok ulang calon Gubernur BI haruslah dipandang sebagai tanda zaman untuk kita bercermin dengan lebih komprehensif.

Saat stadion finansial negeri ini dipakai, pemimpin politik masih disibukan dilema yang diciptakannya “menaikan harga BBM atau menjatahnya?”. Daripada debat “mainstream”, lebih baik menyerap financial netting. Diikuti tindakan nyata dengan menyalurkannya sebagai stimulus daya kerja penopang daya beli dan daya tahan sosial rakyat itu sendiri. Alangkah indahnya, meski hanya baru sebatas mimpi.

Sumber: http://web.bisnis.com/artikel/2id1041.html

Entry filed under: Ekonomi & Investasi. Tags: , , , , , .

Sudah Makmurkah Kita? Investasi Properti?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


+Add @agapechildrencare to your Yahoo! Messenger
agapechildrencare

Blog Stats

  • 91,704 hits

%d blogger menyukai ini: