Melirik Investasi Lukisan

Maret 25, 2008 at 9:13 am 3 komentar

Resapi Indah Goresannya, Nikmati Keuntungannya
Prospek investasi di lukisan semakin cerah
Harga lukisan kontemporer Asia terus melejit. Maka, kian banyak orang berburu lukisan buat koleksi sekaligus investasi. Tapi, jadi kolektor dan investor lukisan tidak mudah. Ada banyak hal yang harus Anda miliki.Untuk menilai keindahan sebuah karya seni sebenarnya butuh rasa, bukan angka. Namun, tak bisa dipungkiri, semakin tinggi apresiasi pasar terhadap sebuah karya seni, semakin tinggi pula angka atau harganya.

Bagi para pecinta seni atau kolektor lukisan, angka ini bukan perkara besar. “Saya mengoleksi lukisan karena mencintai karya seni. Kalaupun nilainya naik, itu bonus,” kata Oei Hong Djien, kolektor dan kurator lukisan ternama dari Magelang. Begitu juga Biantoro Santoso, kolektor lukisan sekaligus pemilik Nadi Gallery. “Saya membeli karena saya suka. Jadi, kalaupun tidak naik, tidak apa-apa,” timpalnya.

Saking cintanya, Oei dan Biantoro tak pernah rela menjual koleksinya. Oei memilih untuk memajang lebih dari 1.000 bingkai lukisannya di museum pribadinya. Karya-karya besar dari Affandi, Basuki Abdullah, Lee Man Fong, Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Widayat terpampang di sana bersama karya-karya pelukis muda.

Biantoro juga mengaku jarang menjual lukisan koleksinya. “Saya bisa menjual, misalnya, untuk mendapatkan lukisan lain yang saya inginkan kalau uang saya tidak cukup,” ucapnya.

Memang, untuk mendapatkan lukisan yang mereka inginkan, para kolektor lukisan bisa sangat “boros”. Kalau sudah jatuh cinta sama sebuah lukisan, mereka rela mengeluarkan duit berapa pun. Inilah yang membuat harga lukisan makin membubung.

Sadar akan hal ini, belakangan semakin banyak kolektor yang memburu lukisan bukan semata-mata demi nilai seninya. Mereka mengoleksi lukisan untuk membiakkan duitnya.

Sebagai karya seni, lukisan memang menjadi instrumen investasi yang bernilai tinggi. Maklum, dalam kurun waktu tertentu harga lukisan yang bagus bisa melambung tinggi. Semakin banyak diburu, makin terbang nilainya. Apalagi jika itu lukisan maestro yang tak lekang dimakan waktu.

Selera pasar menjadi pengerek harga

Menaksir kenaikan harga lukisan tidak mudah. Butuh kepekaan, citarasa yang tajam, serta jam terbang yang tinggi untuk menakar kualitas karya seni. “Tapi, itu bisa dipelajari. Semakin sering melihat lukisan, semakin terasah kemampuan kita,” kata Oei.

Selain kualitas, harga lukisan juga terkait nama pelukisnya, termasuk latar belakang pendidikan, pengalaman, serta ide dan gagasannya. Kalau nama pelukisnya sudah go international tentu harga lukisannya terus menanjak.

Keunikan dan orisinalitas tema lukisan juga bisa jadi bernilai tinggi. “Umpamanya, pelukis A biasa melukis ayam, eh, tiba-tiba dia melukis bebek,” tutur Amir Sidharta, kurator dan pendiri Sidharta Auctioneer. Amir juga menambahkan kelangkaan dan nilai historis sebagai penentu harga lukisan.

Namun, ada satu faktor penting yang menggerakkan harga lukisan, yakni tren atau selera pasar. Rupanya, hukum ekonomi berlaku juga di sini. Semakin banyak permintaan dan semakin sedikit barang, maka harga akan terkerek naik. “Tapi, siapa pasar itu? Dalam dunia lukisan, masalah standar harga itu masih gelap,” kata Biantoro.

Nah, gampangnya, selera pasar adalah selera masyarakat penggemar lukisan pada umumnya. Jadi, bila Anda investor pemula, cara paling mudah adalah bermain aman dengan membeli karya yang mudah dicerna dan sesuai dengan selera pasar. Setidaknya, koleksi Anda bakal lebih likuid karena banyak peminatnya.

Kalau mau tahu seperti apa selera pasar, Anda kudu rajin melakukan riset pasar. Caranya? Datang saja sering-sering ke berbagai pameran lukisan, lelang, dan galeri-galeri lukisan. Ngobrol dan bertanyalah kepada para pelukis, pemilik galeri, dan kurator.

Dari sana Anda bisa tahu lukisan seperti apa yang laku dan banyak dicari orang. Jangan lupa, rajinlah membaca artikel tentang lukisan dan katalog-katalog untuk mencari tahu tren harganya.

Lukisan kontempor Asia lagi naik daun

Nah, saat ini tren pasar sedang berkiblat ke lukisan-lukisan bergaya kontemporer (contemporary art). Kebetulan, mata dunia internasional pun sedang tertuju pada contemporary art di Asia, khususnya China.

Lihat saja, betapa harga lukisan-lukisan kontemporer China naik gila-gilaan dalam dua tahun terakhir ini. Pada lelang-lelang internasional, harga lukisan China karya Yue Minjun, Zhang Xiaogang, atau Liu Xiaodong bisa mencapai jutaan dolar AS. Padahal, beberapa tahun lampau lukisan itu paling-paling hanya dihargai ribuan dolar saja. “Perekonomian mereka yang berkembang memunculkan banyak orang kaya baru. Mereka ini menjadi kolektor-kolektor lukisan, sehingga harga lukisan China melonjak,” ujar Oei.

Kenaikan lukisan China juga berimbas pada lukisan-lukisan dari Asia, termasuk Indonesia. Dalam setahun ini harga lukisan kontemporer karya anak negeri ini sudah naik berkali-kali lipat. “Tahun lalu Anda membeli lukisan Masriadi atau Rudi Mantovani hanya US$ 5.000. Tetapi, kalau Anda jual sekarang, harganya bisa naik 4 kali lipat ke US$ 22.000-US$ 25.000,” ujar Debora C. Iskandar, Wakil Presiden Christie’s Indonesia.

Debora melukiskan lejitan harga lukisan kontemporer tersebut bak gelembung saham dotcom di Amerika beberapa tahun lalu. “Dalam waktu singkat harganya naik amat tinggi, tapi mungkin nanti bisa turun dengan sangat cepat, sampai akhirnya harga menjadi stabil,” lanjutnya.

Namun, Debora optimistis bahwa pasar lukisan kontemporer masih akan naik karena perekonomian Asia juga tengah berkembang baik.

Jika Anda bukan risk taker dan enggan mengoleksi lukisan seperti ini, tak apa. Berarti, pilihan yang aman bagi Anda adalah berinvestasi pada lukisan bluechip.

Cuma, jenis ini harganya mahal karena merupakan buah karya para perupa ternama. Namun, potensi keuntungannya memang lebih pasti, meski peluang kenaikan harganya lebih pelan. Misalnya, lukisan karya Widayat. “Naiknya sekitar 10%-15% setahun,” ungkap Debora. Mmm, tetap saja lebih menarik dari bunga deposito.Bagi yang masih belajar menjadi investor lukisan, Anda bisa mencontoh apa yang dilakukan Budi Karya Sumadi, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol.

Dengan modal kecil, antara Rp 5 juta-Rp 20 juta, Budi berburu lukisan dari para pelukis muda. “Tapi, secara eksotis lukisan itu baik dan punya prospek meningkat. Misalnya, pelukis itu sering menang dalam kompetisi lukisan,” kisahnya. Budi sekarang sudah mengoleksi berbagai karya pelukis muda kontemporer, seperti Cubung Wasono Putra, Bunga Jeruk, Hening Purnamawati, dan Paul Hendro.

Dia memperkirakan lukisan Hening, yang dia beli pada 1993 senilai Rp 10 juta, kini harganya bisa mencapai Rp 75 juta. “Tapi saya belum mau jual. Habis, sudah telanjur sayang, sih,” ujarnya

Kolektor lukisan A.B. Susanto menyebut para seniman muda ini sebagai the rising star. Kriterianya: harga lukisannya masih murah, punya ciri khas, dan berpeluang naik. Tapi, harap diingat, membeli lukisan seperti ini ibarat membeli saham kelas dua atawa saham spekulatif. Harganya bisa naik, tapi bisa juga tetap atau malah merosot.

Jadi, pandai-pandailah menjadi manajer investasi dengan mengelola portofolio lukisan Anda. Sebaiknya isilah keranjang Anda dengan lukisan bluechip dan lukisan kontemporer sekaligus. Dengan begitu, Anda bisa membagi risiko kerugian.

Awas, ada juga lukisan gorengan

Satu hal lagi, sama halnya di bursa saham, di sini juga ada lukisan gorengan. Ini adalah lukisan yang kualitasnya tidak terlalu bagus tapi harganya bisa melejit lantaran ada beberapa pihak yang mengangkat harganya. Misalnya, dengan memborong lukisan itu sehingga tercipta kelangkaan.

Mafia penggoreng lukisan ini bisa saja melibatkan pelukisnya sendiri, kurator, galeri, hingga balai lelang. “Tapi, seharusnya sekarang spekulan yang memainkan harga sudah makin sedikit karena publik sudah makin memahami lukisan,” ujar Amir.

Ya, memang, menjadi kolektor lukisan memang butuh dompet tebal. Karena itu, investasi di lukisan memang lebih cocok buat yang ekonominya sudah mapan. “Untuk beli lukisan gunakan uang menganggur. Kalau tidak nganggur, lebih baik beli emas atau valas yang lebih mudah dijual lagi,” kata Susanto.

Investasi lukisan bersifat jangka panjang. Anda tak bisa membelinya hari ini, lalu menjual keesokan harinya. “Memang ada orang yang membeli lukisan Rp 400 juta, sebulan kemudian dia bisa jual Rp 450 juta. Tapi, tentu harus ada komunitasnya, sehingga lebih mudah menjualnya. Kalau orang biasa, agak sulit,” tutur dia.

Susanto sendiri hingga saat ini jarang sekali menjual koleksinya. Sampai sekarang, misalnya, dia masih menyimpan lukisan Hendra yang berbentuk pahatan, yang jarang sekali ada di pasaran. Lukisan itu dia beli empat tahun lalu dengan harga Rp 150 juta. “Sekarang dijual Rp 600 juta pasti banyak yang mau. Kolektor itu biasanya begitu. Meski barangnya sudah mahal, tetap enggak dijual karena sayang,” katanya.

Nah, tentunya dengan duit yang cukup, koleksi yang beraneka ragam, dan dan minat seni yang besar, akan lebih nikmat untuk menjadi kolektor ketimbang cuma investor. Dus, Anda tak hanya menikmati keuntungan investasi, tapi juga bisa kenikmatan keindahannya.
+++++

Adu Syaraf dan Kocek di Lelang Lukisan

Balai lelang merupakan tempat para kolektor beradu saraf dan kocek demi memburu lukisan. Mereka pun rela keluar ongkos untuk menyambangi lelang-lelang kelas internasional macam Christie’s dan Sotheby’s. Tidak mengherankan kalau balai lelang internasional itu kerap mengadakan pameran, terlebih dulu buat memperkenalkan karya yang akan dilelang. Contohnya, Christie’s yang pada 21-23 September lalu menggelar pameran perupa Indonesia bergaya modern dan kontemporer.

Sedianya, puluhan koleksi lukisan itu akan tampil pada Christie’s Autumn Auction di Hongkong, 25 November mendatang. “Di antara pengunjung dan pecinta seni yang datang, banyak terdapat kolektor. Mereka biasanya bakal ikut serta dalam lelang nanti,” kata Debora C. Iskandar, Wakil Presiden Christie’s Kantor Perwakilan Indonesia.Kalaupun tidak datang langsung, para kolektor bisa ikut proses lelang dengan berbagai cara lain. Misalnya, melalui telepon (phone bidder) ataupun secara tertulis. Bisa juga dengan menitipkannya lewat wakil, teman, atau broker yang hadir dalam lelang tersebut.

Jika Anda hadir dalam pameran lukisan sebelum lelang, biasanya tercantum harga estimasi lukisan. Misalnya, harga estimasi lukisan Juling karya I Nyoman Masriadi senilai US$ 8.300-US$ 12.200. Angka US$ 8.300 itu disebut harga estimasi bawah. Nah, biasanya lelang akan dibuka di bawah harga estimasi bawah. Bahkan, bisa saja di bawah harga reserve atau harga terendah yang disepakati pemilik karya dan balai lelang.

Kemudian, sang juru lelang baru menaikkan sedikit demi sedikit sesuai permintaan para peserta lelang, sampai akhirnya terjual di harga tertinggi alias hammer price. Si pembeli akan membayar harga palu tersebut plus premium atau fee untuk balai lelang. Besarnya biasanya 17% dari harga palu diketok.

Satu hal yang perlu Anda lakukan dalam mengikuti lelang, jangan sampai terbawa emosi. Jika tidak, Anda bakal rugi karena terseret harga yang tak masuk akal. Amir Sidharta, pendiri Sidharta Auctioneer, memberi tiga saran.

Pertama, jangan tunjukkan minat Anda terhadap suatu lukisan kepada siapa pun. Kedua, ikutilah ritme lelang. “Jangan terlalu lambat menawar, tapi jangan pula terlihat bernafsu,” imbuhnya. Ketiga, Anda harus punya batasan harga sendiri sehingga tidak kebablasan. Dengan cara itu, Amir yakin Anda bakal mendapat lukisan dengan harga yang menarik. “Karena biasanya harga lukisan yang dilelang itu di bawah harga pasar,” kata dia.
+++++

Jurus Menangkal Risiko Rugi

Peluang untung investasi di lukisan memang menggiurkan. Tapi, di sini juga berlaku hukum besi investasi: lukisan yang potensi keuntungannya tinggi memiliki risiko rugi yang tinggi pula. Berikut berbagai risikonya:

1. Lukisan rusak
Sebagaimana benda koleksi tua, lukisan butuh perawatan. Jika salah rawat, warnanya akan memudar dan harganya merosot. Jalan keluarnya, merestorasi lukisan itu pada pelukis yang kompeten.

2. Lukisan palsu
Sudah rahasia umum, banyak sekali lukisan terkenal yang dipalsukan. Jika Anda sedang sial dan memperoleh lukisan palsu ini, tentu duit Anda bisa langsung amblas.

Bagi kolektor awam, sulit mengetahui lukisan yang asli atau palsu. Bahkan, kolektor kawakan macam A.B. Susanto pun pernah kejeblos. “Kayak lukisannya Arie Smith. Itu barangnya banyak yang bagus, tapi banyak lukisan palsunya. Sialnya, pemalsunya canggih sehingga sulit dibedakan,” keluh dia.

Umumnya lukisan asli dilengkapi sertifikat. Namun, sertifikat juga tak menjamin 100% keotentikan lukisan. “Sertifikat itu barang cetak-an. Malah jauh lebih mudah memalsu sertifikat ketimbang memalsu lukisan,” kata Biantoro Santoso, kolektor dan pemilik Nadi Gallery.

Ada beberapa cara mengecek keaslian lukisan. Pertama, membawa lukisan itu ke yayasan dan museum yang paling mengenalnya. Misal, lukisan Affandi, ya, Anda bawa saja ke museum Affandi di Yogyakarta.

Kedua, minta masukan ke galeri lukisan atau balai lelang. Tapi, hati-hati juga. Ingat pada kasus karya Raden Saleh di lelang Christie’s dua tahun silam. Ternyata, ada dua lukisan Raden Saleh yang serupa dan keduanya sama-sama memiliki sertifikat. Yang satu dari Christie’s, satunya dari Sotheby’s.

Cara lain, datang langsung ke pelukisnya. Dengan catatan, si pelukis masih hidup. Jika tidak, Anda mungkin bisa mengecek ke sanak keluarganya yang mengetahui perihal lukisan tersebut.

3. Lukisan curian
Jika Anda membeli lukisan ini, Anda bisa terkena tuntutan hukum karena dianggap menjadi penadah.

4. Kualitas lukisan buruk
Anda harus tahu bahwa seorang maestro sekelas Affandi pun tidak selalu menghasilkan lukisan yang bagus. Jika Anda salah membeli lukisan yang berkualitas kurang baik ini, meski hasil karya pelukis terkenal, Anda bisa merugi.

5. Lukisan gorengan
Namanya juga lukisan gorengan, tentu risikonya besar.

6. Tidak likuid
Karena barang seni, lukisan biasanya tidak bisa dijual dengan cepat pada harga yang baik.

7. Harga lukisan turun
Tak selamanya harga lukisan menanjak. Ada, lo, harga lukisan yang turun. Salah satunya akibat pergantian selera pasar. Oei Hong Djien, kolektor dan kurator lukisan, mencontohkan lukisan pemandangan seniman zaman Belanda yang dulu sempat diagung-agungkan. “Kini harganya turun,” ujarnya

Khusus risiko rusaknya lukisan, bisa kita atasi dengan melakukan perawatan yang benar. Berikut tip sederhana merawat lukisan:
– Sebaiknya gantungkan lukis-an di dinding;
– Ruangan jangan terlalu lem- bab. Suhu yang disarankan sekitar 20-24 derajat Celsius;
– Jika perlu, pasang AC dan atau alat pencegah lembap (dehumidifier);
– Jemur lukisan secara berkala;
– Bersihkan lukisan secara rutin dengan alat yang lembut, misalnya: kemoceng.

Untuk mengatasi risiko-risiko lainnya, jalan satu-satunya: Anda harus rajin melakukan riset.

Dengan begitu, banyak hal yang bisa Anda peroleh.

Pertama, Anda akan selalu memperoleh informasi lukisan-lukisan mana yang berkualitas baik; tapi bukan gorengan.

Kedua, Anda akan mengenal ciri-ciri lukisan para pelukis sehingga Anda bisa mengetahui apakah sebuah lukisan palsu atau tidak.

Ketiga, Anda juga akan memahami siklus kreatif setiap pelukis. Jadi, Anda tidak akan terjebak membeli lukisan hanya karena nama besar pelukisnya.

Rika Theo, Hendra S.,Dwin Gideon Sitohang
(Sumber: Tabloid Kontan September 2007)

Entry filed under: Ekonomi & Investasi. Tags: , , , , , .

666 Sudah Makmurkah Kita?

3 Komentar Add your own

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


+Add @agapechildrencare to your Yahoo! Messenger
agapechildrencare

Blog Stats

  • 91,704 hits

%d blogger menyukai ini: